Indonesia catat 7,46 juta pengangguran Agustus 2025, dengan TPT pemuda usia 15-24 tahun tembus 16,89%—setengah dari total pengangguran nasional. Gen Z dominasi 3,55 juta pengangguran karena mismatch skill, PHK massal, dan sektor informal tak serap lulusan SMK/SMA.
Krisis Pengangguran Muda yang Mengkhawatirkan
Data BPS tunjukkan TPT nasional 4,85% turun tipis, tapi pemuda capai 16-17% tertinggi ASEAN, picu migrasi kota dan konflik sosial. Lulusan menengah kesulitan masuk formal karena kurang skill digital, AI, dan otomasi industri—70% tak siap kerja. Dampak ekonomi: konsumsi turun, pertumbuhan lambat, dan beban negara naik Rp500 triliun subsidi sosial.
Penyebab Struktural: Mismatch dan Transformasi Digital
Pasar kerja butuh kompetensi informatika, elektro, bisnis digital—tapi kurikulum sekolah ketinggalan era AI dan cloud computing. Transformasi digital 2025 dorong 200+ perusahaan tech hadir DTI-CX, tapi SDM lokal kalah saing dengan Thailand (TPT 2x lebih rendah). PHK di manufaktur dan retail akibat e-commerce perparah, tinggalkan Gen Z bergantung gig economy tak stabil.
Vokasi Teknologi: Jalan Keluar Siap Kerja
Pendidikan vokasi seperti Teknologi Rekayasa Informatika dan Elektro ciptakan lulusan kompeten nasional via lab modern dan magang industri. Program Manajemen Bisnis Digital bekali skill AI, blockchain untuk UMKM—penyerapan kerja 100% dalam 6 bulan. Sertifikasi nasional dan kemitraan alumni pastikan adaptasi cepat terhadap Indonesia Digital 2045.
Strategi Kolaborasi untuk Nol Pengangguran Muda
Kemitraan politeknik-industri seperti Politeknik Palopo bangun inkubator startup tech, training 55K+ mahasiswa aktif. Kebijakan reskilling Gen Z via platform digital dan energi terbarukan kurangi ketergantungan fosil, buka lapangan elektro hijau. Pendekatan ini ubah krisis 2025 jadi bonus demografi produktif, dorong pertumbuhan 7% via SDM unggul.


Leave a Reply