Anak Muda Sulsel vs Lowongan Kerja: Kenapa Skill Digital Jadi Senjata Rahasia di 2025?

Categories:

Di tengah hiruk-pikuk kota Palopo dan sekitarnya, anak muda lagi pada panik: lowongan kerja pabrik dan kantor konvensional makin susut, sementara tagar #LowonganKerja di sosmed banjir keluhan “lulusan freshgrad susah saingan”. Data BPS Sulawesi Selatan nunjukin pengangguran terbuka di kalangan usia 15-24 tahun capai 12%, lebih tinggi dari rata-rata nasional, gara-gara industri manufaktur dan pariwisata belum pulih sepenuhnya pasca-pandemi.

Bukan cuma soal jumlah lowongan, tapi kualitas skill yang dicari perusahaan: digital marketing, coding sederhana, otomasi listrik, dan manajemen bisnis online. Anak muda yang cuma pegang ijazah SMA atau sarjana umum sering kalah saing sama yang punya sertifikasi kompetensi langsung dari lapangan.

Mental “Kerja Kantoran Ajaib” Bikin Tumbang

Banyak pemuda Sulsel masih ngebayangin karir impian: kerja 9-to-5 di kota besar, gaji tetap, bonus tahunan. Realitanya? UKM dan startup lokal lagi haus tenaga ahli yang bisa langsung praktek: benerin jaringan WiFi buat warung kopi, bikin app sederhana buat jualan online, atau pasang panel surya di rumah petani.

Stigma “politeknik = buat yang gak lolos PTN” juga nempel kuat, padahal lulusan vokasi justru punya employability rate 90% dalam 6 bulan, bandingin sama universitas umum yang kadang butuh 1-2 tahun ngemis CV. Di Palopo, banyak cerita anak muda yang awalnya ragu ambil jurusan elektro atau informatika, tapi sekarang malah jadi mandor proyek energi terbarukan atau web developer freelance.

Tech Lokal Jadi Kunci: Dari Coding ke Panel Surya

Era sekarang, skill digital gak lagi soal jadi programmer elit di Jakarta. Di Sulsel, peluangnya ada di rekayasa informatika buat dukung UMKM Toraja jualan online global, atau teknologi elektro buat otomasi pabrik kakao dan kopi yang lagi booming. Bayangin: drone pantau lahan sawit, app manajemen stok buat pedagang pasar, atau sistem smart grid hemat listrik di desa terpencil.

Manajemen bisnis digital juga lagi panas: anak muda bisa bikin platform e-commerce khas daerah, kolab sama petani buat supply chain kopi Arabika Toraja, atau kelola konten medsos buat brand lokal. Ini bukan mimpi: banyak alumni vokasi di daerah udah buktiin, gaji awal 7-10 juta/bulan plus peluang wirausaha.

Kampus Vokasi: Bukan Cuma Ngajar, Tapi Kasih Jaringan Langsung

Lembaga kayak Politeknik Palopo lagi ubah permainan: kurikulumnya langsung kolab sama industri, dosennya praktisi beneran, dan ada sertifikasi nasional yang bikin CV langsung kinclong. Mahasiswa gak cuma duduk kelas, tapi magang di proyek nyata: bikin software buat koperasi, pasang instalasi listrik di fasilitas umum, atau riset IoT buat smart farming.

Hasilnya? Tingkat kepuasan mahasiswa 100%, dan kemitraan alumni yang bikin freshgrad langsung plug-in ke pasar kerja. Ini bukti vokasi bukan plan B, tapi strategi pintar buat anak muda Sulsel yang pengen cepet mandiri tanpa nunggu “orang dalam”.

Tips Praktis Biar Gak Kalah Start di 2025

Gak perlu nunggu semester baru, mulai dari sekarang:

  • Ambil kursus online gratis coding Python atau Canva Pro, terus portofolio di GitHub atau Behance.
  • Cari magang singkat di UKM lokal: bantu bikin website atau setup Google Workspace, lumayan buat pengalaman.
  • Bangun network lewat LinkedIn atau grup WA industri: tanya alumni vokasi soal peluang di Palopo-Luwu.
  • Sertifikasi dulu kayak Cisco CCNA atau BNSP kompetensi, biar CV beda kelas.

Tahun 2025, lowongan kerja gak lagi soal gelar, tapi skill yang langsung kasih impact. Anak muda Sulsel punya modal alam dan budaya kuat—tinggal tambah tech savvy, peluangnya gak terbatas. Jangan tunggu sistem berubah, ubah diri sendiri dulu jadi yang dicari pasar.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *