Data BPS Februari 2025 mencatat 7,28 juta pengangguran nasional, dengan 48,77% atau 3,55 juta orang dari kelompok usia muda yang mendominasi. Meski jumlah pekerja meningkat menjadi 145,77 juta, pemuda kesulitan bersaing karena kurangnya keterampilan relevan dengan kebutuhan industri digital dan otomasi. Kondisi ini ironis di tengah bonus demografi, di mana generasi muda seharusnya menjadi penggerak ekonomi.
Kesenjangan Keterampilan Digital Hambat Ekonomi Digital
Lebih dari 49% pekerja Indonesia masih berketerampilan rendah, dengan literasi digital minim, sehingga prospek ekonomi digital terhambat meski platform seperti e-commerce berkembang pesat. Industri 4.0 menuntut kemampuan AI, IoT, dan analisis data, tapi kurikulum pendidikan sering tidak sinkron dengan demand pasar kerja. Akibatnya, lulusan sarjana pun menganggur karena skill mismatch, sementara lowongan di sektor teknologi dan manufaktur kosong.
Tantangan Industri 4.0 bagi Tenaga Kerja Muda
Revolusi industri 4.0 membawa otomatisasi yang ciptakan lapangan kerja baru tapi ancam pekerjaan rutin, memerlukan reskilling dan upskilling massal. Di Indonesia, kesenjangan ini parah karena 56% pekerja berpendidikan rendah, sementara industri butuh talenta digital menengah-tinggi. Tanpa adaptasi, pemuda berisiko pengangguran struktural di tengah disrupsi digital.
Solusi Vokasi: Politeknik Palopo Siapkan Lulusan Siap Kerja
Politeknik Palopo jawab tantangan ini melalui kurikulum berbasis kompetensi dengan sertifikasi nasional, praktik lab modern, dan kemitraan industri yang pastikan 100% kepuasan mahasiswa serta kesiapan kerja. Program unggulan seperti Teknologi Rekayasa Informatika, Elektro, dan Manajemen Bisnis Digital bekali mahasiswa skill otomasi, jaringan, energi terbarukan, serta wirausaha digital yang langsung aplikatif. Dengan dosen profesional dan magang industri, lulusan Politeknik Palopo ubah pengangguran pemuda menjadi tenaga ahli berdaya saing global.


Leave a Reply